“Menikah” Kebutuhan atau Kewajiban ?

7 Jawaban Terbaik di Polling Wajibkah Wanita Menikah

Yahoo SheOleh Yahoo! SHE | Yahoo She – Sen, 12 Mar 2012 10:28 WIB

Setelah satu minggu menggelar polling, Masih Wajibkah Wanita Menikah?“, Yahoo! SHE mendapatkan lebih dari 3000 jawaban baik yang pro maupun yang kontra. Sebagian besar yang berpendapat menikah masih wajib berargumen bahwa menikah adalah kodrat wanita yang ditentukan agama, dan sebagai seorang makhluk sosial yang mempunyai kebutuhan sosial dan biologis, wanita sebaiknya menikah. Namun banyak juga pihak yang kontra, yang menyatakan bahwa wanita yang sudah mapan, bisa menghidupi diri sendiri, dan bisa hidup mandiri tanpa laki-laki, tak perlu lagi memaksakan diri untuk menikah.

Berikut ini tujuh jawaban terbaik dari pembaca yang sudah dipilih tim Yahoo! SHE. Tujuh pemenang ini berhak mendapatkan matras Jade Yoga. (Kirim email ke kuis@yahoo-inc.com untuk mengonfirmasi identitas Anda).

 1. Farina  •  Palmerah, D K I Jakarta  
“Bagi saya, sekarang ini pilihan untuk menikah atau tidak merupakan hal yang biasa ada dalam hidup wanita saat ini. Begitu banyak pertimbangan yang diambil, salah satunya adalah masalah waktu dengan suami dan anak jika memang ada. Bukankah akan menjadi sama saja ketika seorang wanita dan pria menikah dan keduanya harus bekerja, yang mungkin hanya bisa bertemu di waktu Sabtu dan Minggu? Apakah itu menjadi satu pernikahan yang sehat? Kemudian maraknya KDRT dalam rumah tangga dapat juga menjadi salah satu pemikiran ke depannya dalam menikah. Maka menikah bukan menjadi kewajiban, namun menjadi pilihan yang merupakan hak setiap wanita..”

2. soe  •  Palmerah, D K I Jakarta  •
“Menurut pendapat saya menikah atau memutuskan tidak menikah tergantung dimana wanita tersebut bertempat tinggal atau hidup. Apabila dia hidup di kota metropolitan/di perkotaan modern bisa saja memutuskan untuk hidup dengan tidak menikah dengan berbagai alasan, namun bagi wanita-wanita yang hidup di kota-kota kecil atau di pedesaan sepertinya sulit untuk mengatakan, “Aku Ingin sendiri” (tidak menikah) karena norma-norma yang dipakai di dua tempat tersebut sangat berbeda walau tidak menutup kemungkinan ada juga kesamaan norma. Namun pada dasarnya setiap manusia yang diberi akal dan pikiran oleh Tuhan pasti ingin menikah dan berpasang-pasangan.”

3. Feolita  •  Palmerah, D K I Jakarta
“Semua orang memiliki pendapat berbeda mengenai status “menikah”. Bagi saya kata menikah itu sendiri punya arti tersendiri, apalagi jika dihubungkan dengan wanita- khususnya mereka yang sudah terbiasa dengan lingkungan dan cara pandang timur (Indonesia). Sejak kecil saya sudah diajarkan jika seseorang harus menikah untuk melanjutkan keturunan, hal tersebut saya pelajari ketika duduk di bangku sekolah dasar. Pelajaran tersebut saya terus ingat sampai sekarang, dan sampai saya beranjak dewasa, saya setuju dengan teori tersebut. Jika seseorang harus menikah untuk melanjutkan keturunan. Apalagi untuk seorang wanita yang pada dasarnya mereka lah yang melahirkan keturunan tersebut.

Namun pertanyaannya adalah, apakah semua wanita ingin melanjutkan keturunan mereka? Atau memiliki keturunan? Pertimbangan pribadi menjadi faktor utama dalam penentuan sikap seseorang ketika mereka memutuskan untuk menikah. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan secara tidak langsung ditujukan kepada diri mereka. Menurut saya pribadi, teori menikah merupakan sebuah teori untuk melegalkan suatu hubungan. Menikah untuk mengikuti adat istiadat yang memang sudah terjalin sejak lama, namun tidak ada keharusan seorang wanita untuk menikah. Kembali lagi menikah tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Setiap wanita saya kira punya hak untuk menentukan pilihanya apakah menikah menjadi pilihan yang tepat ke depannya.”

4. AYUB  •  Palmerah, D K I Jakarta  •
“Seperti microphone yang dibuat untuk memperbesar volume suara dan bukan untuk mengulek sambal (meskipun bisa dipakai untuk ulek sambal), demikian pula wanita diciptakan oleh Tuhan dengan sebuah misi dan tujuan hidup yang mungkin hanya tergenapi misi tersebut bila ia menikah. Memang banyak sekali wanita yang tidak menikah (seperti mother Teresa di Kalkuta, India) yang memenuhi tujuan hidupnya karena tidak menikah. Jadi, menikah atau tidak menikah bukan menjadi masalah apabila sang wanita itu tahu tentang misi atau tujuan hidupnya. Terima kasih banyak.”

5. alina  •  Semarang Timur, Jawa Tengah
“Menurut saya, menikah bukanlah suatu keharusan. Karena tidak hanya dengan menikah wanita bisa bahagia dan bisa menikmati hidup untuk menjadi teladan. Namun orientasi wanita Indonesia apabila tidak menikah akan dipandang “aneh”. Namun menurut saya wajar saja. Contohnya biarawati, mereka tetap bahagia dengan melakukan tugas panggilannya untuk melayani. Keputusan untuk melajang atau tidak menikah memang tidak mudah, tetapi bagi wanita yang memilih hal tersebut itu tidak salah. Mungkin bagi orang yang memutuskan untuk melajang karena berpikir lebih produktif apabila mereka dalam keadaan sendiri, why not to be single??
Succes for us!! Whatever our choice, is the best for our self if it usefull for everypeople, everyplace, and everytime.. :)

6. Nindy  •  Sumur Bandung, Jawa Barat
“Sebagai wanita belum merasa sempurna bila tidak memiliki anak,dan cara yang halal pasti harus menikah terlebih dahulu. Sebenarnya pada jaman sekarang di mana kebanyakan wanita memilih untuk membina karir dan sedikit melupakan soal pendamping hidup mungkin menikah adalah hal ke sekian yang ada di pikiran mereka tetapi pada ahirnya pasti kita akan merasa jenuh akan segala rutinitas yang terlalu sering dijalani dan ingin memiliki seseorang untuk berbagi. Dan jika sudah mulai merasa cocok, why not untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.”

7. bellamore  •  Cirebon Selatan, Jawa Barat
“Iya wanita masih harus menikah, pria pun juga masih harus menikah, karena Tuhan menciptakan keduanya untuk melengkapi satu sama lain. walaupun kini pria dan wanita sudah sama derajatnya dan sama-sama hebat hidupnya namun keduanya tetap makhluk sosial yang hidup di dunia ini bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. Menikah membuat manusia lebih belajar untuk berbagi dengan satu sama lainnya, berbagi susah, senang, lapar dan lain-lain.”

MENIKAH ??

Secara etimologi Pernikahan adalah bentukan kata benda dari kata dasar nikah; kata itu berasal dari bahasa Arab yaitu kata nikkah (bahasa Arab: النكاح ) yang berarti perjanjian perkawinan; berikutnya kata itu berasal dari kata lain dalam bahasa Arab yaitu kata nikah (bahasa Arab: نكاح) yang berarti persetubuhan.[1][2]     

Yang menurut UU no.1 tahun 1974 pasal 1 adalah “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

Hhhmmm… seberapa perlu sih menikah itu ?? … ujung dari hubungan yang berdasarkan cinta sepasang pria dan wanita normalnya memang menikah. Dan ketika memutuskan menikah pasti dengan segala alasan positif yang ada, yang kadang – kadang negative list itu tidak terlihat atau bisa dibilang “semua rasa coklat a.k.a indah” .. Beberapa alasan orang – orang yg mau menikah biasanya adalah :

1.       Kepentok Umur

Hahahahahhaha ini sih kasian, biasanya terjadi bagi para wanita. Ketakutan terbesar mereka adalah para sahabat nya sudah menikah .. Secara tidak sengaja obrolan pun sudah gak nyambung, yg pada nikah yaaa ngobrolin tentang kehidupan rumah tangga atau bahas anak … nah yang masih single ujungnya bloon deh.

2.       Gak Ada Pilihan

Social script yang terjadi bahwa setelah kerja yaaa nikah, abis ngapain lagi donk ??? klo udah punya pasangan ya udah nikah aja, kalau emang udah sama-sama dianggap mapan.

3.       Kelamaan Pacaran

Ini agak bingung sih, kelamaan pacaran terus nikah kira-kira masih ada cinta gak ya ?? atau udah jadi “terbiasa???” rasanya masih sparkling atau malah jadi kayak temen ya setelah menikah ?? Hihihihihi gk tau juga sih, kisah pacaran gw selama 7thn endingnya bukan dipernikahan juga soalnya..

4.       Hamil

Naaaahhh ini rada seru sih, kalo hamil terus nikah dan emang saling mencintai jalan ke depannya mungkin masih enak, nah kalo hamil yang have sex-nya pure karena nafsu yang tak tertahankan kira-kira pernikahannya gimana ya ??? … Mayoritas yang terjadi pasti ujungnya perceraian, atau bahkan nikah nya cuman sekedar formalitas supaya si anak punya kedudukan yang sah dimata hukum. Hhhhhhmmm kasian ya anak, selalu jadi korban.

5.       Dijodohin

Ini kaya jaman siti nurbaya yaaaa…. Kalau kata orang jaman dulu “ala bisa karena biasa” … jadi karena terbiasa hidup sama-sama yaaa bisa cinta. Kesuksesan pernikahannya, hmmm 50:50 kali yaaa…. Apalagi kalau udah punya anak, biasanya mereka berusaha untuk baik-baik aja karena anak

6.       Cinta

Idealnya semua manusia di dunia menginginkan pernikahan karena cinta, dimana karena cinta mereka mau berjuang, dimana mereka saling melihat bahwa criteria yang mereka inginkan ada di pasangan mereka. Tapi gw rasa gak semua orang yang bisa menikah dengan orang yang dia cintai secara 100%. Karena pada kenyataannya banyak hal lain yang akhirnya mengalahkan cinta, antara lain;

a.       Beda Agama

Ini pasti sering kali kita jumpai, banyak pasangan yang akhirnya mengakhiri kisah cintanya karena beda agama … walaupun kita semua tau bahwa TUHAN itu cuman satu, tapi agama dapat memisahkan 2org yang saling mencintai. Kalau kayak gini harus gimana ya?? Hmmm jujur kalau gw pribadi sih sangat berusaha untuk tidak menjalin hubungan yang lebih dalam dengan seseorang yang memang dari awal sudah memiliki perbedaan ini, bukan karena beda agamanya tapi menurut gw diperlukan toleransi yang sangat luar biasa di dalam satu Rumah Tangga jika terdapat dua cara penyembahan terhadap Tuhan YME. Dan akan sedikit kesulitan untuk mengajarkan tradisi beribadah kepada anak & keturunan mereka nanti karena ada secara ayah / secara ibu. So lebih baik, jika memang kira-kira kalian tidak mempunyai jiwa besar untuk bertoleransi sebaiknya jangan memulai untuk membuka hati lebih dalam lagi.

b.      Beda Suku

Kalau ini sih, kayaknya di era 2012 udah jarang dijumpai. Walaupun yang paling sering gw denger adalah suku batak harus nikah sama batak … hehehheheh secara gw batak, sangat beruntung mom&dad gak menyuruh gw untuk nikah sama batak. Secara bokap juga bukan 100% orang batak. Tapi kalo gak salah, persamaan suku itu lebih memudahkan dalam hal tradisi, misalnya saja seperti orang batak (baik karo/toba) .. tradisi adat pernikahan suku batak itu luar biasa panjaaaaaaannnnnggggg, bisa dibayangin gak seandainya menikah dengan non suku batak terus disuruh ngikutin tata cara adat batak, mungkin bisa kejang-kejang… Huahahhahahaha Lagi – lagi dalam perbedaan itu sangaaaatttt dibutuhkan TOLERANSI yang juga besar. Karena kata semua orang ke gw,

MENIKAH ITU BUKAN HANYA DUA MANUSIA TETAPI DUA KELUARGA.

c.       Beda Strata Sosial

Weeeelllll …. Kalau yang ini pernah terjadi di depan mata gw sih, akhirnya pasti tidak seimbang dan secara tidak sengaja yang strata sosialnya di atas bisa bertindak “suka-suka” .. walaupuuunnnn lagi – lagi mungkin di awal tidak ada niat seperti itu. Atau malah sebaliknya, yg di bawah mengambil keuntungan dengan menikahi yg diatas dengan alasan “memperbaiki status social”. Huaaaaaa… ini sih aneh, kalau tidak 100% karena cinta – untuk beda yang satu ini gw gak setuju.

7.       Butuh

Kenapa gw bikin “butuh” ini sebagai salah satu alasan seseorang untuk menikah, karena sangat mungkin ada manusia yang bisa menciptakan kenyamanan & ketenangan tanpa awalnya merasakan cinta. Dimana lo bisa ngerasa tenang untuk ngungkapin apapun yang lo rasain tanpa takut ada yang tersakiti,  atau seseorang yang bisa bikin lo tenang hanya melalui pelukannya bahkan tanpa satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Orang yang bisa sangat mengerti apa yang lo rasain tanpa lo cerita, orang yang bisa tau apa yg di kepala lo cuman lewat tatapan lo ke dia. Bukan karena cinta tapi lo tau lo aman sama dia, di saat lo takut cuman dia yang bisa bikin lo yakin bahwa semua akan baik- baik aja. Dan cuman dia yang lo mau untuk ada selalu buat lo !!! …. Buat gw pribadi ini seperti lo nemuin sahabat lawan jenis yang bisa bikin lo tetep jadi diri lo sendiri tapi akhirnya dia bikin lo gak bisa hidup tanpa dia. Orang yang jauh dari criteria pasangan lo, orang yang gak pernah lo bayangin sangat berarti buat lo, orang yang gk peduli lo rusak/ancur/bener/sedih/bahagia tapi dia selalu bisa bikin lo nyaman. Mungkin di dalam nya terdapat kasih yang tulus yang bukan sekedar euphoria cinta atau bahkan rasa penasaran terhadap lawan jenis.

Berada dalam lingkungan “pernikahan” yang heterogen sangat menimbulkan asumsi tentang menikah buat gw sendiri.

Walaupun ketika membaca novel roman yang happy ending selalu bikin gw percaya “cinta” itu ada, dan di dunia nyata pun banyak orang yang berjuang untuk cintanya tetapi yaaa gak semuanya happy ending (kalau kata gw & salah satu sahabat gw, Happy ending dalam 2jam itu hanya dalam film). Hmmmm balik lagi ke pernikahan, pandangan pribadi gw tentang menikah itu seperti membangun suatu perusahaan. Sayangnya ini hanya terdiri atas pria & wanita (kalau perusahaan kan punya beberapa direktur untuk mengurusi bidang masing-masing) yang dimana pria sebagai kepala keluarganya (well kalau di perusahaan hanya ada satu presiden direktur kan??).

Seperti layaknya perusahaan. Pernikahan pasti terlaksana karena adanya kesamaan visi & misi kedua pasangan itu, namun memang tidak pernah tertulis atau bahkan terpasang di salah satu dinding rumah mereka untuk mengingatkan mereka tujuan awal pernikahannya. Hmmmm kadang perlu juga kali ya, supaya nantinya jika ada permasalahan yang cukup pelik akhirnya tidak berujung kata-kata “cerai”.

“Komitmen” dan “Tanggung Jawab” … Bukan hanya dalam perusahaan, jajaran direksi harus sangat memegang teguh dua kata tersebut tetapi seluruh para anggota dari perusahaan tersebut harus dapat komit & tg.jwb. Jika di analogikan dalam pernikahan, suami, istri harus mempunyai komitmen & tanggung jawab terhadap hak & kewajiban mereka masing – masing, yang tentunya berpengaruh pada kehidupan rumah tangga mereka.

Hidup pasti bermasalah, maka menikah pun pasti ada masalah.  Seperti yang tadi gw bilang, berada dalam lingkungan yang kehidupan pernikahannya bermacam-macam pastinya gw sering banget denger atau bahkan melihat sendiri permasalahan yang terjadi, yang kadang suka kehabisan akal untuk ngasih pendapat dalam permasalahan itu, karena pastinya setiap pihak akan merasa dirinya benar dan satu hal yang pasti adalah gw belum pernah nikah.. hehehehhe….

RIBET !!! yang namanya masalah pasti ngeribetin hidup sih, dan itu yang bikin emosi naik, migren kambuh, maag kambuh, hari berantakan, intinya semua jadi gak beres…

Nah, masalah yang terjadi di hidup gw sendiri aja kadang bikin gila apalagi masalah dalam pernikahan ya?? Huaaaa…. Ribetnya pasti 2x lipat, secara yang terlibat di dalamnya kan 2 orang artinya 2 pendapat & 2 hati … Berarti harus ada jalan tengah … (hahhahahha dalam setiap masalah pasti harus dicari jalan keluarnya sih)..  tidak bisa hanya “let it flow” atau “go with the flow” … karena kalau 2 statement itu digunakan dalam hidup, itu seperti memelihara bom waktu … Yang seandainya alam baik sama kita yaaaa berarti happy ending tapi jika tidak sad ending.

Belajar tentang pernikahan, paling dekat adalah dari kedua orang tua gw. Believe it or not Mom & Dad itu memulai kisah cinta mereka ketika my mom masih SLTP dan my dad STM … yaaannnggg berakhir di pelaminan… huahaahhahahahhaa beneran mereka berdua baru sama-sama pacaran dan akhirnya nikah. (dasyaattt yaaaa, klo disejajarkan sama gw … huahahahhaha list pacar saya kok banyak). Kayaknya pernikahan mereka itu sudah memasuki usia ke 33 tahun. Menurut gw mereka beneran pasangan yang sangat luar biasa, pernyataan yang keluar dari seorang imam ketika memberikan homili di pemberkatan pernikahan boss gw januari lalu adalah “MENIKAH DENGAN ORANG YG KITA CINTAI ITU MUDAH TAPI MENCINTAI ORANG YANG KITA NIKAHI ITU SULIT” …. pernah ngobrol sama mom dan nanya “kenapa mama mau nikah sama papa ??” … waktu itu beliau menjawab “karena cinta” … hahhahahahhahahah dalam hati gw mikir “heh, cinta aja?? Emang cukup ?? tapi kan cinta gk bisa bayar listrik” …. :d … Tapi saluuuttt lah buat mereka, walaupun kayak tom & jerry tapi kalau mereka berjauhan mereka cari2an… hehehehheheh konyol deh. Apalagi kalau lagi beda pendapat, asli kocak!!!

Bokap, yang gw tau cinta nya buat nyokap luar biasa… walaupun nyokap super duper bawel … tapi teteeeeeppp loh bokap gak pernah nolak apapun permintaan nyokap, hmmmmm beneran jadi ratu di rumah. Bokap selalu bilang “kalau gak ada mama, belum tentu papa jadi seperti ini” …. Hmmmmmmm mungkin itu kutipan “di belakang lelaki yang hebat terdapat wanita yang hebat pula”… Bokap tuh sebenarnya romantis, dia selalu kirim buket bunga ke rumah di setiap ultah nyokap, valentine’s day, hari ibu… walaupun nyokap suka gengsi gak mau nerima, tapi teteeepp ajee cinta… tapi kalo kata nyokap sekarang “boro-boro romantis” mungkin dulu lebih romantis kali yaa .. hahhahahahhahahahahahah….

Nyokap, yang gw tau dia gak bisa hidup tanpa bokap.. walaupun bokap orang yang sangat emosian parah (maklum batak) tapi teteeepppp yang bisa bikin bokap diem klo lagi ngamuk-ngamuk ya cuman nyokap… Nyokap bilang “papamu itu orang nya gak macem-macem yang penting diurus makanya mama mau nikah sama dia” … hahahhahahah…

Asli kocak, mereka saling mengagumi satu sama lain dan mereka saling membutuhkan. Bukan gak pernah berantem, sampe bikin depresi ringan anak-anak pun pernah sih tapi entah sepertinya “toleransi” mereka jauh lebih besar daripada kesel mereka. Dan yang pasti mereka berdua saling menjaga.

Tapi bukan cuman dari mereka proses belajar gw, banyaaaakkkk sekali … dari om-tante atau bahkan temen-temen pun gw belajar. Sampai pada di titik “PERLU GAK SIH MENIKAH ITU???” … sampai detik ini gw gak tau perlunya menikah itu apa.. Dan buat gw menikah itu suatu hal yang complex.. Mungkin benar perlu cinta untuk menikah tapi sepertinya yang lebih penting itu bukan hanya sekedar cinta tapi pengertian, toleransi, dan berusaha untuk menerima. Karena biar gimana pun 2 orang sampai mati sekali pun tidak akan bisa disatukan jika keduanya tidak menurunkan ½ dari dirinya untuk dilengkapi oleh salah satu dari mereka, karena Tuhan menciptakan manusia dengan pikirannya masih-masing. (anggiemalem.maret2012)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s