Cinta ?
Katolik ?
Cinta dalam Katolik ?
Apa yang ada di pikiran kita disaat kita mendengar kata CINTA ??
- kasih
- suci
- relationship
- sex
- napsu
Sedangkan apa itu KATOLIK ? Apakah katolik hanya sekedar agama atau sarana manusia berkomunikasi dengan Tuhan ?
Cinta sesuatu yang laku di ‘pasaran’. Bila dihubungkan dengan Katolik, cinta yang dimaksud adalah cinta kasih. Sumber cinta kasih adalah teladan Yesus Kristus. Tanpa cinta kasih yang dilakoni Yesus Kristus maka tak ada keselamatan. Sebab karena cinta-Nya, Yesus Kristus rela sengsara dan wafat di kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia. Namun, saat ini realitas cinta sesungguhnya sudah “nge-blur”. Kini, kebanyakan dari kita memaknai cinta lebih kepada “to take” daripada “to give
Rata-rata kita (orang muda) mendekatkan cinta dengan NAPSU. Salah seorang teman yang hadir dalam diskusi ini berpendapat bahwa CINTA & NAPSU itu beda tipis, hal ini dengan tegas di bantah oleh diakon peter. Beliau mengutip ucapan paus Benedictus XVI, dimana paus mengklasifikasikan bahwa CINTA terdiri atas EROS, AGAPE, dan LOGOS. Sementara SEX merupakan anugerah dari Tuhan untuk manusia bisa mengungapkan apa itu CINTA – akan tetapi anugerah tersebut dapat menjadi jahat jika terjadi di saat yang tidak tepat.
Adanya pergeseran makna tentang CINTA dalam kehidupan kaum muda saat ini, dimana sesuatu yang umum menjadi hal khusus, yang salah menjadi benar, atau sebaliknya.
Tertulis dalam ensiklik pertama Paus Benedictus XVI, yaitu DEUS CLARITAS EST” = GOD IS LOVE, yang merefleksikan konsep tentang EROS (cinta seksual), AGAPE (kasih tanpa syarat), dan LOGOS (firman atau sabda) dan hubungannya masing – masing dengan ajaran Katolik.
Taukah kita bahwa dalam Hukum Kanonik Gereja Katolik, no. 1061 § 1 Perkawinan sah antara orang-orang yang dibaptis disebut hanya ratum, bila tidak consummatum; ratum dan consummatum, bila suami-istri telah melakukan persetubuhan antar mereka (actus coniugalis) secara manusiawi yang pada sendirinya terbuka untuk kelahiran anak, untuk itulah perkawinan menurut kodratnya terarahkan, dan dengannya suami-istri menjadi satu daging.
Dimana kita tau bahwa dalam ajaran katolik sangat dikenal dengan CINTA KASIH. Cinta dalam Katolik, secara murni adalah Keselamatan, dan Pengorbanan. Keselamatan karena adanya sakramen pembabtisan, dimana dalam pembaptisan manusia dibebaskan dari dosa asalnya, dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, dan menjadi anggota gereja. Sedangkan pengorbanan seperti Yesus yang dengan rela mati di salib hanya untuk menebus dosa umatnya, dan adanya sakramen pengakuan dosa . Setiap individu yang telah menerima sakramen pembabtisan diperkenankan untuk menerima sakramen pengakuan dosa. Tapi bukan berarti dengan adanya sakramen pengakuan dosa bisa membuat kita semena-mena untuk tetap saja melakukan dosa yang telah kita akui.
Timbul sebuah pertanyaan akan sakramen pengakuan dosa, “Manusia adalah mahluk bebas, dan Hidup adalah pilihan- Apa yang akan terjadi jika, agama yg tercatat dalam KTP adalah katolik, status belum menikah, tetapi sudah melakukan SEX. Apa saya tetap katolik?” … Diakon peter menjawab pertanyaan tersebut .. Adalah benar bahwa manusia adalah bebas, Tuhan tidak bisa memaksa tetapi Tuhan memberikan pilihan atas keselamatan secara cuma-cuma, secara esensi kamu masih katolik, akan tetapi akan timbul suatu pertanyaan akan kredibilitas kekatolikkan kamu.
Banyak terdengar bahwa dengan adanya pengakuan dosa, terlihat bahwa katolik memfasilitasi perbuatan dosa, suatu hal yang sangat salah, karena seperti yg dijelaskan sebelumnya bahwa pengakuan dosa bukanlah media untuk mengulang dosa, justru sebaliknya, seperti dalam doa TOBAT – “aku menyesal atas dosa-dosaku. …………..dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku da tidak akan berbuat dosa lagi”. Jika kita mendalami arti kata-kata ini bahwa, kita memilih untuk berjanji (judge mental)
“Apa yang terjadi jika, ketika saya ingin menikahi perempuan yang saya cintai – tetapi ternyata dia sudah tidak perawan??” Mungkin buat para perempuan pertanyaan ini sungguh sangat tidak adil, mengapa hanya tentang keperawanan perempuan saja yang dijadikan patokan, mengapa keperjakaan seorang laki-laki bisa menjadi tanda Tanya besar kami ?? … Mengutip kalimat diakon menanggapi pertanyaan tersebut adalah “Cinta itu dianggap sejati, jika kita dihadapkan pada keadaan yang menyusahkan”
“Apakah katolik mengenal pacaran ?” pada dasarnya, pacaran itu adalah suatu hubungan dimana saling mengenal yang nantinya diharapkan untuk dapat dilanjutkan ke hubungan yang sah secara katolik yaitu Sakramen Pernikahan.
Bagaimana dengan pernikahan beda agama ?, konsekuensi yang diterima oleh pihak yang menikah beda agama adalah, secara katolik mereka tidak menerima sakramen pernikahan hanya menerima pemberkatan pernikahan, akan tetapi walaupun bukan sakramen – katolik harus tetap menjadi acuan dasar pendidikan agama untuk anak-anak mereka kelak. Jika nantinya pihak yang bukan katolik menjadi katolik / menerima sakramen pembabtisan maka mereka diharapkan untuk mengulang kembali proses pernikahannya dengan menerima sakramen pernikahan.
Iman katolik, yang membuat katolik menjadi berbeda dengan ajaran lain, yi . Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium (PAUS – USKUP) . Magisterium adalah orang – orang yang terpilih yang menginterpretasikan sabda Tuhan di dalam kitab suci.
Hal – hal yang sangat tegas dan jelas tidak boleh di dalam katolik adalah CERAI, ABORSI, NIKAH SESAMA JENIS, ALAT PENCEGAHAN KEHAMILAN (KB – KONDOM (akan tetapi ada kondisi khusus seperti di afrika, dimana sangat mudah untuk tertular AIDS, akan tetapi ini merupakan hal terakhir yang akan diusahakan
CERAI , di dalam katolik tidak ada istilah perceraian. Akan tetapi jika ada Tindakan yang dilakukan karena ketidaktahuan atau kekeliruan tentang sesuatu yang merupakan substansi tindakan itu, atau yang merupakan syarat yang harus ada (conditio sine qua non), adalah tidak sah (irritus); kalau tidak demikian, tindakan itu berlaku, kecuali ditentukan lain dalam hukum; tetapi tindakan yang dilakukan karena ketidaktahuan atau kekeliruan, dapat memberi kemungkinan bagi tindakan pembatalan sesuai dengan norma . (hk.kanonik 126). Proses untuk melakukan pembatalan pernikahan tersebut harus sesuai dengan pengadilan gereja dan diputuskan secara tegas oleh paus.
NIKAH SESAMA JENIS, walaupun dalam ilmu psikologis ketertarikan terhadap sesama jenis tidak dianggap sebagai sesuatu yang abnormal, karena kasih tidak bisa dibatasi dengan jenis kelamin akan tetapi di dalam katolik hanya mengartikan bahwa Kesepakatan perkawinan adalah tindakan kehendak dengan- nya seorang laki-laki dan seorang perempuan saling menyerahkan diri dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan perjanjian yang tak dapat ditarik kembali. (1057 § 2).
Akhir dari Kongkow OMK SANBARTO bersama diakon peter ialah, Seharusnya jika kita seorang katolik, kita hidup dalam cinta kasih. Ingat bahwa cinta tidak akan pernah merusak, cegahlah hal-hal yang memungkinkan kita mudah berbuat dosa, berdoalah karena hanya dengan berkomunikasi dengan Tuhan kita akan semakin tau perbuatan yang sesuai dengan kehendakNya.
Last but not least…. “Katolik ada karena Cinta, keselamatan ada karena cinta tak bersyarat dari Tuhan kepada manusia (unconditional love), Tanpa Cinta itu bukan katolik, marilah kita mencintai secara katolik, marilh kita membagikan cinta ini dimanapun kita berada (menjadi garam di dunia)- Banggalah menjadi katolik” (diakon peter,SDB)
Createdby.Anggiemalem/16th may2011 – Editby.DiakonPeter/17th may2011